Tangerang, (Humas MAN 2)— Sebuah gebrakan fenomenal terjadi di panggung Olimpiade Madrasah Indonesia (OMI) Nasional 2025 MAN 2 Kota Makassar, madrasah yang kini menjelma menjadi lumbung peneliti muda, berhasil membuktikan diri sebagai yang terbaik dengan meraih gelar Emas dan Perunggu sekaligus dalam kategori riset. Dua tim jenius dari Makassar ini tidak hanya sekadar meneliti; mereka menawarkan...
Tangerang, (Humas MAN 2)— Sebuah gebrakan fenomenal terjadi di panggung Olimpiade Madrasah Indonesia (OMI) Nasional 2025 MAN 2 Kota Makassar, madrasah yang kini menjelma menjadi lumbung peneliti muda, berhasil membuktikan diri sebagai yang terbaik dengan meraih gelar Emas dan Perunggu sekaligus dalam kategori riset.
Dua tim jenius dari Makassar ini tidak hanya sekadar meneliti; mereka menawarkan solusi yang relevan, unik, dan berakar kuat pada nilai-nilai lokal serta teknologi masa depan.
Medali Emas yang paling bergengsi diraih oleh tim Integrasi Keislaman Dan Keilmuan (Ekoteologi). Riset mereka bukan hanya tentang biologi, tetapi tentang bagaimana sains dan nilai agama (Ekoteologi) bisa berkolaborasi untuk menyejahterakan petani.
Di tengah isu krisis pangan dan keterbatasan lahan, tim yang dipimpin oleh Davina Farha Aulia Faizal ini menjawab tantangan dengan inovasi. Mereka meneliti waktu paling optimal (interval) pemberian zat pengatur tumbuh GSA (Giberelin, Sitokinin, dan Auksin) pada tanaman jagung di Desa Ugi.
Uniknya, riset ini mengintegrasikan prinsip "kesadaran lingkungan" yang sejalan dengan ajaran Islam, bahwa memanfaatkan alam harus dilakukan secara bijak dan berkelanjutan. Penelitian ini membuktikan bahwa panen bisa dioptimalkan secara signifikan, memberikan harapan baru bagi petani di Sulawesi Selatan. Juri terpukau pada perpaduan akurasi ilmiah dan etika keagamaan yang menjadi benang merah riset ini.
Bagian 2: Perunggu: Melawan Kepunahan Aksara Lokal dengan AI (Kategori Transformasi Digital)
Sementara tim lainnya, yang beranggotakan Reina Trisaputri dan Ashila Zahirah Armin, berhasil mencuri perhatian dan menyabet Perunggu melalui riset yang sangat visioner: "RUPASULAPA", sebuah penelitian untuk melawan kepunahan aksara lokal dengan AI (Kategori Transformasi Digital)
Ketika warisan budaya lokal, khususnya Bahasa dan Aksara Lontara, mulai tergerus arus digital, tim ini tidak tinggal diam. Mereka merancang Aplikasi RUPASULAPA berbasis Artificial Intelligence yang berfungsi sebagai kamus, tutor interaktif, dan alat pelestari aksara kuno tersebut.
"Kami tidak ingin Lontara hanya menjadi catatan sejarah. Dengan AI, kami membawanya masuk ke smartphone siswa, menjadikannya bahasa yang hidup dan keren," tutur Reina, salah satu anggota tim.
Riset ini dinilai sebagai jembatan penting yang menghubungkan warisan masa lalu dengan teknologi masa depan, sebuah langkah transformatif yang sangat dibutuhkan dalam pembangunan nasional.
Kepala MAN 2 Kota Makassar, Hj. Darmawati, yang hadir mendampingi langsung, menyambut kemenangan ini dengan bangga.
"Ini adalah momentum emas bagi MAN 2 Kota Makassar! Anak-anak kita membuktikan bahwa madrasah adalah pusat riset yang tidak hanya pintar mengaji, tetapi juga hebat dalam sains terapan dan teknologi," tegas Hj. Darmawati.
"Dari total 3 Emas dan 1 Perunggu yang dibawa pulang, dua di antaranya datang dari kategori riset yang sangat kompetitif. Ini bukan kebetulan, ini adalah hasil dari dedikasi dan kerja keras para juara!"
Prestasi di OMI 2025 ini secara resmi menempatkan MAN 2 Kota Makassar di peta nasional sebagai salah satu madrasah percontohan dalam inovasi riset, siap melahirkan ilmuwan-ilmuwan muda yang peduli pada isu lokal dan mampu bersaing secara global. (humas/hb)
Komentar
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!